Pengalaman yang Takkan Pernah Ku Lupakan


Widya Çastrena Dharma Siddha


ingin sedikit bercerita bagaimana bisa anak manja ini menjadi seorang resimen mahasiswa :)

sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu resimen mahasiswa


Resimen Mahasiswa (disingkat Menwa) adalah salah satu kekuatan sipil yang dilatih dan dipersiapkan untuk mempertahankan NKRI sebagai perwujudan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Menwa juga merupakan salah satu komponen warga negara yang mendapat pelatihan militer (unsur mahasiswa). Markas komando satuan Menwa bertempat di perguruan tinggi di kesatuan masing-masing yang anggotanya adalah mahasiswa atau mahasiswi yang berkedudukan di kampus tersebut. Menwa merupakan komponen cadangan pertahanan negara yang diberikan pelatihan ilmu militer seperti penggunaan senjata, taktik pertempuran, survival, terjun payung, bela diri militer, senam militer, penyamaran, navigasi dan sebagainya.



Awal mula aku mengikuti ini sempat ragu, apa bisa anak manja seperti ini bisa? 

melanjutkan pendidikan kuliah tentunya impian semua orang yang selesai dalam menuntaskan pendidikan sekolah menegah atas. sempat aku berfikir bagaimana proses pembelajarannya? apakah akan sama seperti dulu aku ketika di SMA? 

singkat cerita masuklah aku ke kampus ini. Seperti tradisi yang selalu ada setiap kampus dimana mana pasti ada yang namanya "masa orientasi" nah dalam kesempatan itu banyak unit kegiatan mahasiswa yang satu persatu memperkenalkan unit masing masing. ada satu yang membuat ku penasaran, dalam unit tersebut orang orangnya memakai baju loreng, memakai baret warna ungu, melaksanakan bongkat pasang senjata dan melaksanakan demo bela diri militer. aku fikir mereka anggota TNI atau semacamnya. 

satu persatu latihan mulai dari olah raga fisik seperti lari, push up, sit up, dll. cape terasa berat melaksanakan kegiatan itu, sempat aku berfikir berhenti/ tidak melanjutkannya. tapi kembali lagi aku berfikir untuk apa pengorbanan yang aku lakukan tiba tiba berhenti begitu saja. pendidikan dasar semakin dekat. kegiatan disiplin baik disiplin waktu ataupun disiplin perbuatan mulai aku rasakan. 

Tibalah waktunya pendidikan dasar dengan diikuti 23 perguruan tinggi se jawabarat dengan kurang lebih 300 calon siswa, aku ingat waktu itu kami dikumpulkan di skomen menwa mahawarman di bandung tepatnya di surapati. oh iya, waktu itu dari kampusku ada 21 orang diantaranya 10 orang putri dan 11 orang putra. mereka sudah kuanggap seperti saudara walaupun kami berbeda. hari itu tanggal 28 januari 2017 kami diberangkatkan dari skomen ke cekolah calon tamtama di pangalengan menggunakan bekang (sejenis truk pengangkut para tni) kurang lebih 3 jam di perjalanan ke secata tersebut. 

Sesampainya disana kami diturunkan dan diberi pengarahan dimana tempat kami di didik tempat tidur dan sebagainya. malam itu juga kami dibagi kompi dan pleton. aku ditempatkan di kompi 2 pleton 3. saat kitu dalam satu pleton kami saling berkenalan satu sama lain, ada yang asli dari kalimantan, surabaya dan masih banyak yang lainnya lagi dari berbagai kota  dan perguruan tinggi di jawabarat. hari demi hari kita lewati. hari pertama terasa berat cape, kesal, dan segala macam rasa tercampur aduk, bahkan rasanya ingin pulang saja.

disana kami dilatih oleh para guru militer tentunya dari anggota TNI, mulai dari bangun tidur melaksanakan ibadah sesuai agama masing masing, dilanjutkan olahraga pagi, sarapan, pemberian materi sampai jam 12 setelah itu makan siang lalu dilanjutkan pengenalan medan objek perang. rasanya kembali pada masalalu ketika penjajah berjuang ketika masa penjajahan masih ada, terdengar suara bom, tembakan dan lain lain. hingga sore hari kegiatan tersebut dilaksanakan dan ketika malam hari pembekalan materi hingga pukul 10 malam setelah itu kami istirahat. selama 7 hari kami di didik seperti itu. pembekalan materi seperti menembak dengan senjata jenis ss1 atau m16, navigasi darat, peraturan penghormatan militer, materi bela negara, ketahanan fisik, dll. oh iya kami disana setiap orang mempunyai istri/suami. bukan berarti orang. melainkan senjata yang harus dibawa kemanapun kami pergi layaknya suami/istri masing masing.

Tiba waktunya kami belajar di luar secata. long march disebutnya. perjalanan kami lewati mulai naik turun bukit, melewati sungai, hutan, dan segala macam medan kami lalui dengan waktu selama 7 hari. ketika  malam kami harus membangun tenda atau bivak, ketika makan kami harus mencari sendiri bahan makanan.  semua itu buakn berarti kita di susahkan, melainkan agar bisa menghargai apa yang kita punya jika serba kekurangan. ada di suatu hari kami harus melaksanakan kegiatan survival yaitu mempertahankan hidup dengan cara dan dalam kondisi apapun.

hari demi hari kita lewati selama 17 hari, tibalah saatnya pembaretan, baret kebanggan yang aku impikan setelah melewati berbagai materi dan perjuangan tentunya. rasa bahagia bercampur sedih terasa. bahagia karena bisa mendapatkan baret, sedih karena kami tidak bisa dibaretkan oleh orangtua kami khusunya yang di perguruan tinggi kami, maklum dari bandung ke tempatku jauh.

perjuangan belum berakhir, kini tugasku baru dimulai, dengan penyempurnaan kewajiban dengan ilmu pengetahuan dan ilmu keprajuritan di perguruan tinggi tercintaku Universitas Galuh Ciamis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertanyaanku Tentang Seseorang

Perempuan